Friday, 5 September 2014

Doa Sepasang Petani Muda

Mari kita tunggu datangnya hujan 
Duduk bersanding di pelataran 
sambil menjaga mendung di langit 
agar tak ingkar, agar tak pergi lagi 
Kasih, kemarilah duduk merapat 
sama-sama tengadahkan wajah 
agar lebih tegar kita memohon 
turunnya hujan basahi bumi ini 
Kau dengar ada jeritan 
ilalang yang terbakar dan musnah 
Usah menangis 
simpan di langit 
Jadikan mendung 
segera luruh jatuh ke bumi 
Basahi ladang kita yang butuh minum 
basahi sawah kita yang kekeringan 
basahi jiwa kita yang putus asa 
Kemarau ini begitu mencekam 
Kasih, kemarilah duduk merapat 
sama-sama tengadahkan wajah 
agar lebih tegar kita memohon 
turunnya hujan basahi bumi ini 
Kau dengar ada jeritan 
ilalang yang terbakar dan musnah 
Usah menangis 
simpan di langit 
Jadikan mendung 
segera luruh jatuh ke bumi 
Basahi ladang kita yang butuh minum 
basahi sawah kita yang kekeringan 
basahi jiwa kita yang putus asa 
Kemarau ini begitu mencekam

Kepada MU aku pasrah (Ebiet G Ade)



KepadaMu aku pasrahkan
seluruh jiwa dan ragaku
Hidup dan mati ada di tanganMu
Bahagia, sedih ada di jariMu

Cukup lama aku mencari,
menembus pekat dan menerjang kelam,
menyusuri langkah yang makin jauh
Adalah firmanMu pemandu jalanku

Batu gunung tetap tegap tegar
meski angin geram menerpa
Batu karang tak hendak terhempas
meski ombak menerjang terjang
Rindu keteguhan imanku
Hamparan langit biru ho ho
Kering air mata hapuslah duka
Adalah firmanMu pemandu jalanku

KepadaMu aku memohon
nyalakan semangat, bangkitkan nyali,
robohkan tantangan ombak lautan
Rahasia hidup mesti terpecahkan